Jumat, 11 Januari 2013

Pulau Run, Harta Karun Indonesia yang Digadaikan dengan Pulau Manhattan New York


Tidak pernah terdengar. Itulah kata yang pertama kali akan terucap tatkala menyebutkan nama Pulau Run. Dalam buku teks pelajaran Geografi SD sampai SMA tidak pernah tercetak tentang letak pulau kecil di kepulauan Banda ini. Pulau dengan panjang hanya 3,2 kilometer dan selebar 0,8 kilometer ini bahkan tidak tertera dalam atlas Indonesia sekali pun. Jauh di belahan bumi bagian Amerika Serikat, tersebutlah Pulau Manhattan,yang memilki luas 20 kali pulau Run, kota terpadat yang merupakan pusat bisnis dunia. Symbol peradaban modern abad XXI.
Sekitar 345 tahun lalu, Pulau Run dianggap lebih berharga nilainya dibandingkan pulau besar lain di dunia, termasuk Pulau Manhattan New York, Amerika Serikat. Terdengar absurd memang namun itulah kenyataan yang ada kala itu. Ketika 1 gram pala lebih berharga nilainya dibandingkan dengan 1 gram emas.
Indonesia kala itu merupakan daerah surga dengan bergelimang rempah-rempah yang  menjadi komoditas nomor wahid bangsa Eropa. Rempah-rempah konon dapat mengobati segala macam penyakit. Demi mendapatkannya, merupakan sebuah perjuangan hidup dan mati. Itulah mengapa Indonesia setidaknya tercatat pernah menjadi daerah jajahan beberapa negara Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris.
Kala itu, bangsa Eropa membeli rempah-rempah dari pedagang Asia Barat. Karena membeli melalui perantara, maka harga rempah-rempah menjadi sangat mahal. Itulah mengapa bangsa Eropa melakukan ekspedisi ke Hindia Timur, termasuk Indonesia. Ekspedisi pertama yang mendarat ke tanah Maluku adalah bangsa Portugis tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso D’Albuquerque. Hingga daerah Lisabon Portugis menjadi darah pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa. Selain itu, bangsa Spanyol di bawah pimpinan Ferdinand Magellan juga menguasai daerah Maluku. Namun karena kalah kuat, daerah jajahan Spanyol, Tidore dikuasai oleh Portugis.
Berbeda dengan Portugis dan Spanyol, ekspedisi Inggris memonopoli perdagangan di Asia bukan disponsori oleh pemerintahan melainkan persekutuan dagang bernama EIC (East Indian Company) yang merupakan gabungan para pengusaha London. Sejak tahun 1600 EIC mendapat hak khusus dari pemerintah Inggris untuk menangani perdagangan di Asia dan berhasil mengadakan hubungan dengan beberapa tempat di Indonesia termasuk Maluku. Pada tahun 1603 Inggis menemukan pulau Run yang dipenuhi dengan pohon Pala yang berharga. Run adalah koloni pertama Inggris di dunia. Saat James I berkuasa sebagai raja pertama dari Dinasti Stuart, ia disebutkan sebagai Raja Inggris, Skotlandia, Irlandia, Perancis, dan Pulau Run.
Pada tahun 1605 armada Belanda yang di bawah pimpinan Steven van der Haghen merebut Leitimor dari Portugis. Berturut-turut Belanda merebut benteng Portugis dan menguasai nyaris seluruh Kepulauan Banda, kecuali Pulau Run. Pulau kecil itu tetap dikuasai Inggris dan menjadi duri dalam usaha Belanda memonopoli rempah-rempah.
Di Pulau Run, Inggris mengirim Kapten Nathaniel Courthope untuk mencegah pulau ini diklaim Belanda. Courthope menyodorkan kontrak agar penduduk Run mau menjadi pulau merdeka di bawah Kerajaan Inggris.  Namun, Belanda yang sedang penasaran pantang menyerah. Selama empat tahun armada negara itu mengepung Run dan akhirnya pada 1620 Courthope terbunuh.
Setelah berkali-kali bertempur, kedua negara akhirnya berkompromi. Belanda-Inggris, melalui perjanjian Breda, sepakat menukar wilayah koloni. Permusuhan dihentikan pada 1667 dengan Traktat Breda. Isinya, Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, koloni Belanda, Nieuw Amsterdam di Amerika Utara (kini Amerika Serikat), harus diserahkan ke Inggris. VOC sepertinya diuntungkan dengan menancapkan kekuasaannya dalam monopoli perdagangan pala dunia.
Belakangan, Inggris mengganti nama Nieuw Amsterdam menjadi New York. Memasuki abad ke-21,  sejarah kemudian berbicara dan menimbulkan ironi. New York berkembang pesat menjadi kota terbesar dunia dengan perdagangannya. Sementara Pulau Run, seperti juga pulau-pulau kecil di Nusantara, jauh terbelakang, miskin, dan terlupakan.

Sumber :
Ekspedisi Cincin Api Kompas
berandakawasan.wordpress.com
Sejarah Nasional Indonesia
Atlas Indonesia dan Dunia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar