Jumat, 11 Januari 2013

Aku, Bapak, dan Secangkir Kopi


Entah mengapa sosok Bapak selalu berada terbelakang dari sosok Ibu. Sosok Bapak selalu disebut setelah sosok Ibu. Begitu banyak cerita tetang Ibu, namun tidak banyak orang yang menceritakan perjuangan Bapak. Orang lebih cenderung mengagungkan sosok Ibu. Memang, Ibu adalah pribadi yang luar biasa. Jasa seorang Ibu tidak akan pernah bisa terbalas. Itu benar. Lantas, apakah semua itu harus ditanggung Ibu sendiri?

Tentu saja tidak. Karena masih ada Bapak yang senantiasa mendampingi Ibu. Ketika proses kehamilan, melahirkan, serta menyusui, Bapak selalu menjadi suami yang siaga berada disamping Ibu. Turut begadang mendampingi Ibu walaupun esok hari harus bekerja. Membantu Ibu mengganti popok, mencuci semua baju, kadang ikut memandikan bayi mungil yang masih sangat ringkih.

Belum lagi ketika dulu aku masih bayi, Bapak berangkat mengajar dengan sepeda onthelnya. Berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat kesekolah dan pulang saat siang hari, mengayuh sepeda onthel dengan terik matahari. Hanya demi keluarganya, Ibu dan makhluk mungil bernama bayi. Kehadiran bayi akan menambah pengeluaran tentunya. Lebih besar pengeluaran dari orang tuanya malah. Mulai dari urusan susu, popok, bedak, sabun, deterjen, hingga urusan-urusan khusus pula. Dan urusan khusus itu juga memerlukan biaya yang “khusus” pula.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa, Bapak kalah pamor dengan Ibu. Mengapa bisa begini ya? Entahlah. Mungkin karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah, ketika berada dirumahpun waktunya digunakan untuk istirahat. Bapak sering diidentikkan dengan sosok yang kaku dan keras. Kadang ambisius. Mungkin karena ia merupakan penopang keluarga. Memiliki tanggung jawab besar dipundaknya.

Namun bukan berarti kasih sayang Bapak tidak sebesar Ibu. Boleh jadi kasih sayangnya melebihi kasih sayang Ibu. Siapa yang tahu? Karena kebanyakan Bapak jarang mengungkapkan kasih sayangnya dengan ekspresif. Berbeda dengan Ibu yang lebih emosional, Bapak terkadang mengungkapkan kasih sayangnya dengan bahasa, gerak-gerik, dan cara yang berbeda. Hanya bisa dipahami olehnya sendiri. Dulu ketika aku terjatuh dari sepeda, Ibu pasti akan histeris tetapi Bapak tidak. Ia akan segera mengambil tindakan. Sebagai contoh langsung mengobati luka dengan obat merah. Laki-laki memang digariskan tidak gampang mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Laki-laki lebih mudah untuk mengambil tindakan saja.

Banyak orang yang bilang aku lebih mirip dengan Bapak daripada Ibu. Bahkan ada yang bilang aku tidak secantik Ibu. Bagaimana ceritanya aku anak perempuan satu-satunya dikeluarga, tidak mirip Ibu? Dulu memang aku memberikan penolakan terhadap kalimat ini. Tetapi semakin aku beranjak dewasa, terkadang aku membenarkan juga. Aku dan Bapak memang mirip. Itu yang sudah lama aku dengar dari orang lain. Tapi aku tidak lantas berkecil hati karena hal itu. Malah aku semakin bangga. Jika ditanya kenapa aku bangga, jawabannya simple. Karena aku adalah anaknya. Benar bukan?

Aku banyak mendengar cerita tentang Bapak yang mengungkapkan kasih sayangnya dengan memukul anaknya. Tapi Bapakku tidak. Seingatku, tidak pernah Bapak memukulku karena kenakalanku, dengan sengaja. Kalaupun pernah, pukulannya adalah ketidak sengajaan.  Bahkan ekspresi dan nada marah sangat jarang ditunjukkan oleh Bapak, kecuali pada batas-batas tertentu.

Sosok Bapak adalah pelindung keluarga. Apapun keadaannya, Bapak selalu menjadi garda terdepan melindungi istri dan anak-anaknya. Mungkin karena lagi-lagi aku anak perempuan satu-satunya, dulu saat masih SMA aku punya batas keluar malam. Pernah ketika belum pulang ketika waktu shalat maghrib, Ibu menelfon ataupun sms mengingatkanku jika sudah waktunya pulang. Aku tahu bahwa sebelum Ibu sms pastilah Bapak juga berfikiran sama seperti Ibu. Bedanya, yang lebih ekspresif adalah Ibu. Tetapi dengan kepercayaan penuh dari mereka, ada sedikit kelonggaran pada beberapa kegiatan yang membutuhkan waktu hingga larut malam. Pernah ketika ada acara di PDM yang membuatku terpaksa pulang larut hingga pukul 11 malam, Bapak belum juga tidur, menungguku untuk membukakan pintu sambil melihat televisi. Padahal aku tahu, keluargaku terbiasa istirahat pukul 9 atau 10 malam, karena esok pagi-pagi harus bekerja.

Bapak tidak pernah mengajariku  bagaimana bersosialisasi, tetapi aku belajar darinya bagaimana bermasyarakat dengan orang lain. Bapak tidak pernah menungguiku belajar mengerjakan PR, tetapi aku belajar bagaimana beliau mengerjakan pekerjaan sekolah yang dibawanya pulang. Bapak tidak pernah megajarkanku menyukai buku, tetapi menyediakan bahan bacaan dirumah. Aku mencontoh apa yang dilakukah Bapak. Bahkan ketrampilan mengurusi surat-menyurat dan urusan keuangan-pembukuan, bukan kudapatkan dari sekolah, tapi membantu Bapak merapikan arsip surat organisasi.

Salah satu hobi Bapak yang sangat menarik untuk dibicarakan adalah membuat layang-layang dan memainkannya. Sedikit lucu memang pada awalnya. Ketika waktu luang beliau habiskan untuk meraut buluh dan menimbangnya dengan benang. Kata beliau tidak sembarang orang bisa membuat layang-layang. Butuh sense yang tinggi dengan ketepatan pengukuran yang akurat mengenai perbandingan lebar bodi layang-layang.Ah, apalah itu rumusnya,  tetap saja tidak ada penerus Bapak dalam membuat layang-layang yang keren. Adik laki-laki pertamanku sama saja apatisnya denganku. Tidak punya cukup kesabaran dan ketelitian. Berbeda dengan adik laki-lakiku yang kedua. Tampaknya ia memiliki minat yang besar terhadap pekerjaan sampingan Bapak ini. Tetapi seberapa seringpun adikku membuat, hasilnya tetap saja sama. Layang-layang tidak berhasil membumbung tinggi ke awan. Partner setia Bapak adalah keponakan ku yang tinggal disamping rumahku. Kapanpun Bapak membutuhkan bantuannya mengenai permasalahan bahan baku, hingga prosedur pelaksanaan, dapat dipastikan keponakanku dengan siap sedia, tanggap dan bertanggung jawab akan ikut terlibat. Hasilnya, produk Bapak berupa layang-layang dengan sawangan- semacam tali yang menghasilkan bunyi saat terkena tekanan angin- yang sempat mendapat surat teguran resmi dari kepala desa agar tidak dibunyikan saat malam hari bulan Ramadhan, alasannya mengganggu kekhusyu’an sholat taraweh.  Inovasi terbaru, layangan yang dilengkapi dengan lampu warna-warni. Sempat adikku yang paling kecil bertanya, butuh berapa meter kabel untuk menyambungkan lampu dengan listrik? Ada-ada saja adikku ini. Kalau saja kau sudah belajar tentang fisika, tenaga angin yang menggerakkan dynamo, pastilah engkau mengerti dik. Alamaaakk… bahkan Bapak pun sudah tahu tentang hal itu tanpa belajar tentang fisika sepertiku. 

Satu lagi, Sosok Bapak selalu identik dengan rokok. Seberapapun intensitas aku menjelaskan tentang dampak negative rokok bagi perokok aktif maupun perokok pasif, tak sedikitpun menggoyahkan kemantapan hati Bapak terhadap rokok. Mungkin bagi Bapak rokok sudah menjadi bagian dalam hidupnya yang tidak terpisahkan. Tetapi seberapa seringpun beliau merokok, jarang Bapak merokok dengan membiarkan asap pembakarannya terhirup oleh kami. Pernah sekali Bapak mencoba rokok elektrik, rokok gadungan, dengan bentuk, warna, yang mirip dengan rokok. Tetapi rasa memang tidak bisa bohong. Hanya lidah yang bisa menilai cita rasanya.

Dan satu teman Bapak yang selalu ada saat pagi hari, selalu siap ketika Bapak pulang dari bekerja, dan bahkan tidak pernah absen tersedia ketika malam menjelang. Yang membuat aku sekarang setengah mati menyukainya juga. Menyukainya karena dulu pernah mencoba-coba mencicipinya hingga tertangkap basah oleh Bapak karena habis setengahnya. Dan adik-adikku yang juga meniru kebiasaanku mencicipi dengan sembunyi-sembunyi. Bahkan, adikku yang pertama sekarang menjadi penggemarnya juga. Iya bener. Kopi.

Kopi yang telah menyatukan selera keluargaku. Berawal dari mencicipi kopi Bapak hingga habis separohnya, hingga Ibu yang menyediakan berbungkus-bungkus Kopi dengan berbagai macam merk, Kapal Api, Nescafe, Good Day, bahkan Kopi hitampun tersedia. Kopi menjadi semacam minuman wajib dirumah. Meskipun aku tahu bahwa ada dampak negative akibat mengkonsumsi kopi yang berlebihan dan diatas ambang batas wajar, namun kecintaanku terhadap Kopi, berasal dari kecintaanku kepada Bapak. Bahkan, dari berbagai macam jenis kopi yang ada, entah itu Espresso, Moccacino, Cappucino, Kopi Luwak, Coffe Latte, ataupun Americano dan sederet ratusan nama-nama kopi asing lainnya, tetaplah Kopi Bapak yang diam-diam kucicipi adalah Juaranya. ^.^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar